» » Rusmin: Rezim Jokowi Harus Diakhiri di 2019


INIKABAR.com , JAKARTA – Mencermati centang perenang kondisi bangsa, khususnya menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang, harus dibangun pemikiran agar pilpres terjadi proses regenerasi kepemimpinan.
Demikian dikatakan pengamat politik, Rusmin Effendy, SH.MH kepada inikabar.com di Jakarta, Sabtu (14/4/2018).
Menurut Rusmin, kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) harus diakhiri pada 2018. Pasalnya, kata dia, rezim Jokowi gagal membawa bangsa ini lebih baik dari pemerintah sebelumnya.
“Terlalu banyak janji kampanye yang tidak terealisasi. Realitas politik yang ada rakyat menginginkan perubahan dan pergantian kepemimpinan nasional," ujarnya.
Rusmin menilai, peluang Prabowo Subianto masih cukup kuat sebagai penantang Jokowi di Pilpres 2019. Kondisi yang ada sekarang sudah berbeda dengan Pilpres 2014 lalu.
“Ini menjadi selling point Prabowo bersama partai-partai koalisinya,” Rusmin Effendy, menambahkan.
Selain itu, lanjut dia, hampir empat tahun rezim Jokowi tak mampu mengubah kondisi rakyat yang semakin terpuruk. Jokowi masih sibuk melakukan pencitraan, sedangkan hal seperti itu sudah tidak dibutuhkan lagi.
Misalnya, empat tahun rezim Jokowi tak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang masih tetap mangkrak di angka 5 persen. “Begitu pula klaim program infrastuktur yang tidak jelas, bagi-bagi sertifikat tanah dan sebagainya,” tandasnya.
Menjawab soal tanggapan Jokowi soal 2019 ganti presiden, Rusmin menjelaskan, apa yg disampaikan Jokowi merupakan bentuk kepanikan beliau.
"Kok seorang presiden galau hal-hal seperti itu. Ini membuktikan Jokowi tidak kuat dan panic selling. Seorang presiden harus berjiwa negarawan dan memikirkan rakyatnya, bukan komentar soal kaos," tegasnya.
Rusmin justru memprediksi jika Pilpres 2019 berlangsung secara fairness dan head to head Jokowi versus Prabowo, dapat dipastikan Jokowi bakal tumbang.
Terkait beberapa nama yang muncul dalam bursa capres seperti Gatot Nurmantyo, TGB, Rusmin Effendy meniali belum mampu melawan Jokowi.
“Semuanya kan belum punya seat dukungan parpol, kecuali Prabowo yang sudah mengantongi 13 persen suara, apalagi jika berkoalisi dengan PAN, dan PKS,” tukasnya.
Sedangkan koalisi kubu Jokowi, lanjut dia, ada PDIP, Golkar, Nasdem, PPP dan PKB. “Untuk mendapatkan seat dukungan sangat tergantung lobi-lobi politik di tingkat elite. Situasi masih becek dan belum ada yang pasti,” ucapnya.
Karena itu, dia menyarankan elite parpol bukan cuma mengejar kekuasaan untuk mendapatkan posisi cawapres, tapi harus bertekad untuk menjadikan Jokowi sebagai musuh bersama yang harus ditumbangkan di Pilpres 2019 mendatang.
Dia juga mengingatkan potensi kecurangan pilpres untuk kemenangan Jokowi sudah terlihat. Modus yang digunakan tak jauh berbeda dengan Pilkada DKI 2017 lalu.
Mulai dari KTP ganda, bagi-bagi sembako, serangan money politic serta melakukan intimidasi kepada tokoh-tokoh tertentu.
"Gejala itu sudah terendus dengan membanjirnya TKA asal Cina, kriminalisasi ulama dan tokoh tertentu. Sudah dipastikan Jokowi akan melakukan segala cara untuk berkuasa kembali. Karena itu, rakyat harus kobarkan semangat jihad fi sabilillah untuk menangkal kecurangan dan mencegah jangan sampai Jokowi berkuasa kembali," tegas dia.
Menyinggung Pilkada Serentak 2018, Rusmin memprediksi, calon-calon yang diusung PDIP baik wali kota, bupati maupun gubernur di pelbagai daerah dipastikan akan tumbang.
"Rakyat sudah cerdas menilai sepak terjang elite politik dari PDIP dan dipastikan tidak bakal dipilih rakyat," kata Rusmin Effendy. (Dudun Hamidullah)

loading...

REDAKSI - www.inikabar.com - Blak Blakan

www.inikabar.com Media Informasi Dan Bisnis.Untuk kerjasama Publikasi,Press Release,Advertorial,Pasang Iklan silahkan hubungi via email ke inikabar@yahoo.co.id
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR ANDA