Breaking News

Caleg Buruh Dari PSI : Mengenal Seorang *PRANA RIFSANA*

Penulis : Rizki Hysnu Saptyadi

INIKABAR.com , JAWA BARAT - Saya yakin di kabupaten Subang, Sumedang dan Majalengka sebelumnya tak banyak  yg mengenal sosok Prana Rifsana, tapi itu dulu sebelum Pemuda kelahiran Jakarta 1973 ini telah resmi menjadi Caleg PSI untuk DPRD Provinsi Dapil Jawa Barat XI dengan nomor urut 4.

Saya pertama kali mengenal seorang Prana Rifsana disaat acara "Ngobras" (Ngobrol Asyik dan Santai) yang diadakan bro Dedek Prayudi di kota Subang beberapa bulan yg lalu. Saat itu bro Prana memperkenalkan diri sebagai Caleg Buruh.

Berbicara mengenai buruh, memang masalah per-buruh-an sepertinya dari dulu tidak pernah selesai dan belum ada solusi signifikan hingga sekarang terutama di wilayah Subang ini, dan selalu menjadi menjadi isu sensitif dan bahan kampanye yang dibawa - bawa oleh para caleg dari semua  parpol pada setiap menjelang pemilu.

Orang-orang oportunis ini selalu mengaku - ngaku dan berorasi sebagai pembela buruh, memperjuangkan aspirasi buruh, menjamin masa depan buruh dll. Tentunya dengan harapan mendapat dukungan dari kaum buruh yang jumlahnya sangat banyak di wilayah Jawa Barat ini. Namun pada dasarnya mereka tidak paham samasekali persoalan mendasar dari kaum buruh dan hanya menjadikan buruh sebagai objek tuk meraih kursi parlemen saja.

Berbeda dengan mereka, Bro Prana Rifsana caleg dari PSI ini justru sebenarnya sudah menggeluti dunia perburuhan jauh sebelum terjun ke dunia politik. Perjuangan dan Ide - ide untuk solusi masalah perburuhan sudah tertuang dalam sepak terjangnya sejak tahun 1999, bisa di"searching" di Google. Saat ini pemuda Sarjana Akuntansi lulusan Universitas Pembangunan Nasional tidak bersedia untuk dicalonkan kembali menjadi Ketua Serikat Pekerja Bank Permata.

Kemudian apa sebenarnya persoalan klasik dan mendasar dari para buruh?? Tentu saja Bro dan Sis bisa membaca tulisan bro Prana Rifsana yang dimuat di harian Pasundan Ekspress pada artikel yg berjudul *"Buruh 'Nyaleg' Hapus Korupsi"* serta artikel lainnya berjudul *"Buruh dan Meritocrasy"*.

Salah satu langkah nyata dari seorang Prana Rifsana sebagai Caleg PSI yang fokus pada buruh adalah saat beberapa minggu yg lalu mengadakan pelatihan seni 'decoupage' di Subang pada bulan Oktober kemarin. Decoupage yg berasal dari bahasa Prancis yg artinya desain gambar dari potongan kertas adalah cara yg menyenangkan dan mudah untuk mendekorasi objek apa saja, termasuk benda2 dirumah mulai dari vas kecil hingga furniture berukuran besar. 

Decoupage merupakan kerajinan atau bentuk seni yg memerlukan kreatifitas yang ditempel pada objek sehingga terlihat dilukis langsung pada objek tersebut. Dimana industri kreatif ini masih baru dan memiliki pangsa pasar yg sangat besar dengan nilai ekonomis yang sangat besar pula. Dengan pelatihan ini bro Prana mendorong terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat terutama para buruh.

Bro Prana juga menjadi pelopor terbentuknya komunitas Gerakan Anti Pungli yang sudah mulai berjalan di seluruh wilayah Subang, Sumedang, dan Majalengka. Sebuah gerakan yang terbentuk akibat maraknya pungli - pungli kerja bagi para calon pekerja yang sangat meresahkan para pencari kerja ini. Dengan tujuan agar wilayah SMS ini dapat segera terbebas dari pungli kerja yang  bukan rahasia lagi terjadi di masyarakat kita dan sudah mem"budaya" sejak lama.

Langkah nyata, itulah yg membedakan bro Prana dengan para caleg2 buruh lainnya yang mengaku sebagai pejuang aspirasi buruh.

Saya pribadi sangat berterima kasih atas hadirnya bro Prana sebagai Caleg PSI yg fokus pada per-buruh-an, karena istri saya sendiri juga seorang buruh pabrik. Jadi saya paham betul problematika yg dihadapi kaum buruh dari awal mulai melamar kerja (yg harus menghadapi pungli2 kerja), saat bekerja (tentang hak dan kewajiban pekerja dan pemberi kerja), hingga saat akhir masa kerja (penghitungan uang pesangon).

Saat ini bro Prana telah mulai dikenal oleh masyarakat Subang, Majalengka, Sumedang yang menjadi daerah pemilihannya 
dan sedang menjalani aktivitasnya sebagai Caleg PSI yang memberi  harapan untuk mengakhiri persoalan tiada henti bagi kaum buruh untuk meraih kesejahteraan.